Jumat, 18 Agustus 2017/25 Zulqaidah 1438 H|12:44 WIB
Anda berada di: Artikel
Banner Atas

Artikel

Kawasan Wisata Jembatan Akar Salah Satu Keajaiban Dunia Yang Belum Mendunia

Oleh: Yoni Syafrizal
Jumat, 11 Agustus 2017

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang diunggulkan oleh Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Semua itu memang berkat anugerah dan dukungan potensi yang dimiliki.

Dengan semakin menggeliatnya pariwisata, gairah ekonomi masyarakat juga semakin menggeliat pula, terutama sekali warga sekitar. Semua itu memang akibat dari lonjakan kunjungan yang selalu meningkat dari hari ke hari.

Painan, Agustus 2017--Selaian kawasan wisata Pantai Carocok Painan yang terdapat di ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), ternyata daerah itu juga memiliki banyak potensi waisata lainya yang tidak kalah menarik.

Sebut saja salah satunya kawasan wisata Jembatan Akar yang terdapat di Puluik Puluik Kecamatan Bayang Utara. Walau diakui unik karena hanya satu-satunya di dunia, namun lokasi itu tidak semendunia sebagai mana kawasan wisata Pantai Carocok Painan.

Fakta itu dapat dilihat dari tingkat kunjungan masyarakat yang masih terlihat sepi, walau pada hari-hari libur.

Jembatan akar yang lebih dikenal dengan sebutan titian akar oleh masyarakat di daerah itu, merupakan salah satu kekayaan alam yang sangat berpotensi membuat Pessel semakin dikenal di bidang kepariwisataan.

Untuk mengenal lebih dekat kawasan wisata unik ini, berikut penulis menurunkan tulisan setelah melakukan kunjungan ke lokasi itu beberapa waktu lalu.

Kawasan wisata jembatan akar Puluik Puluik yang terdapat di Kenagarian Puluik Puluik Kecamatan Bayang Utara Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), berjarak sekitar 25 kilometer dari Pasar Baru Kecamatan Bayang.

Lebih dari 100 tahun yang lalu, di Kampung Puluik Puluik Kenagarian Puluik Puluik itu lahir  seorang anak yang kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda kreatif.

Anak itu bernama Sokan, namun oleh masyarakat setempat anak yang kreatif itu setelah dewasa akrap dipanggil Pakiah Sokan. Gelar Pakiah itu disandang karena dia memang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta juga piawai dalam mencari solusi dan persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

Semasa hidupnya, baik ketika masih belia hingga dewasa, otaknya selalu berfikir  mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Termasuk juga terhadap minimnya sarana transportasi di kampungnya.

Katika itu yang paling mendesak menurutnya adalah sarana penghubung antara kampung Puluik Puluik dengan kampung Lubuk Silau yang dibatasi oleh sungai Batang Bayang.

Agar sarana penghubung dua kampung itu bisa teratasi, maka perlu dibangun sebuah jembatan. Tapi keterbatasan material baik semen, besi dan lainya, menjadi penghalang solusi pembangunan jembatan tidak bisa dilakukan oleh masyarakat saat itu.

Sebab Kampung Pulik Pulik yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pasar Baru Bayang ketika itu, selain sulit dijangkau dari daerah luar, berbagai kebutuhan untuk membangun jembatan juga tidak bisa didapat.    

Pakia Sokan yang tinggal tidak jauh dari lokasi jembatan akar saat itu, merasa miris setiap kali menyaksikan warga kampung yang juga tentu anak keponakannya sendiri di Lubuak Silau yang selalu menyeberangi sungai untuk pergi ke pasar atau sekedar ke Puluik Puluik.

Kalaupun ada jembatan, paling bagusnya terbuat dari bambu yang lebih pas disebut titian. Tapi setiap kali air sungai meluap atau besar, jembatan yang terbuat dari bambu itu akan terbawa arus air pula. Bahkan penyeberangan seperti itu juga sangat membahayakan keselamatan.  

Beranjak dari kondisi dan besarnya resiko dengan menyeberang di atas titian bambu, sehingga terpikirlah oleh Pakia Sokan untuk  membuat jembatan dari akar.

Sebelum jembatan akar dibangun, Pakia Sokan  melakukan survei terlebih dahulu terhadap jenis kayu yang memiliki akar kuat dan panjang, dan bisa menyatu satu sama lainnya.

Berbagai jenis kayu yang ada di hutan sekitar kampung itu dipelajarinya. Uji cobapun dilakukan terhadap berbagai jenis kayu tanpa pantang menyerah hingga akhirnya pilihan jatuh pada jenis kayu pohon kubang dan beringin.

Setelah melalui pertimbangan yang matang baik terhadap kekuatan pohon dan kekuatan akar dan lainya. Sehingga tahun 1916 Pakia Sokan mulai menanam dua jenis pohon pilihanya itu, yakni pohon kubang dan beringin.

Dua jenis pohon ini, masing-masing ditanam secara berseberangan. Dimana sebelah Kampung Pului Puluik ditanam pohon Kubang dan diseberang sebelah Dusun Lubuak Silau ditanam pohon beringin.

Pohon yang sudah ditanam itu oleh Pakia Sokan tidak dibiarkan tumbuh begitu saja, tapi juga dirawat hingga tumbuh menjadi dua pohon yang besar. Setelah itu, barulah dipasangnya bambu sebagai titian.

Karena kayu yang ditanam semakin besar dan subur, akar-akarnya pun mulai banyak dan juga memanjang. Mulailah Pakia Sokan menjalin atau menganyam akar ini satu persatu mengikuti titian bambu yang terpasang, sebagai mana diceritakan Riko Eka Putra, cucu Pakia Sokan beberapa waktu lalu di Puluik Puluik.  

" Tanpa mengabaikan tugas utama sebagai pencari nafka bagi anak dan istri saat itu, setiap hari angku (kakek red) saya menjalin akar demi akar. Upaya dan kerja keras tanpa pamrih dan pujian itu ternyata membuahkan hasil. Sebab akar yang beliau jalin itu berubah menjadi sebuah jembatan yang saat ini dikenal dengan sebutan jembatan akar," katanya.

Dikatakanya jembatan akar yang sudah berdiri kokoh saat ini, mulai dikenalkan pada tahun sembilan puluhan sebagai salah satu objek wisata di Pessel.

" Walau unik dan tiada duanya di dunia, namun geliat kunjungan tidak semembludak kawasan wisata pantai Carocok Painan. Dari itu upaya dan kerja keras yang telah dirintis oleh angku Pakia Sokan ini, perlu lebih dimaksimalkan oleh Pemda Pessel melalui instansi terkait. Sebab menghadirkan sebuah keunikan yang alami sebagai mana keberadaan jembatan akar di Puluik Pulik ini tidaklah mudah dan membutuhkan waktu, kesabaran dan perjuangan yang panjang. Itu telah ditorehkan oleh tangan terampil pakia Sokan," ungkapnya.

Herman Datuak Rajo Bandaro, salah seorang tokoh masyarakat Puluik Puluik yang juga ditemui ketika berkunjung mengakui bahwa keberadaan jembatan akar di kampungnya itu memang berkat usaha dan perjuangan yang dilakukan Pakia Sokan.

" Pakia Sokan ketika hidupnya juga seorang ulama, dia memiliki banyak murid mengaji. Diantara muridnya itu juga ada yang setiap hari menyeberangi sungai untuk sampai ke surau tempat ia mengajar ilmu agama di Lubuk Silau. Karena kasihan dan was-was terhadap keselamatan mereka, sehingga terpanggilah hatinya untuk membuat jembatan dari jalinan akar pohon kubang dan beringin yang sengaja dia tanam," jelasnya.

Ditambahkanya bahwa setelah dua jenis pohon yang ditanam sekitar tahun 1916 itu tumbuh besar, Pakia Sokan setidaknya membutuhkan waktu selama 26 tahun untuk membangun jembatan itu hingga bisa ditempuh oleh warga untuk menyeberang.

" Sekarang jembatan akar yang sudah berusia sekitar 100 tahun ini, memang telah menjadi salah satu kawasan wisata di Pessel. Kebaradaanya yang unik, memang menjadi daya tarik untuk didatangi. Namun geliat kunjungan belum begitu banyak, walau diantara yang datang ke sini juga berasal dari berbagai daerah di Sumbar, termasuk luar provinsi," ucapnya.

Sukarni 51, warga Pekanbaru yang sengaja datang ke objek wisata itu bersama istri dan tiga anaknya ketika ditanya mengakui bahwa jembatan akar Puluik Puluik salah satu lokasi wisata unik yang ia temui di daerah itu.

" Jembatan Akar Puluik Puluik merupakan salah satu kawasan wisata unik yang saya jumpai di Pessel. Dikatakan unik, karena memang tidak bisa ditemui di daerah lain. Bahkan secara nasional ini bisa dikatakan sebagai salah satu keajaiban, sehingga perlu terus dijaga dan dipelihara agar tidak musnah," ungkapnya.

Ditambahkanya ia memang sengaja datang ke lokasi itu untuk mengenalkan keunikan yang ada kepada tiga anaknya.

" Informasi keberadaan jembatan akar ini saya dapatkan melalui media internet yang sempat saya baca beberapa waktu lalu," katanya sambil berlalu.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar